Ini lah Penyebab Rupiah hingga Rp 14.000 per USD

Kurs Dolar masih belum berhenti menghantam Rupiah di kisaran Rp 14.000 per USD. Angka ini cukup jauh meninggalkan target yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp 13.400 per USD.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Drajat H Wibowo mengatakan, pelemahan Rupiah ini sebenarnya bukan hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Menurutnya, nilai tukar Rupiah lesu dipicu oleh kinerja perekonomian domestik yang tidak menggembirakan.

“Pemerintah selalu memberi argumen karena faktor eksternal. Saya sampaikan beberapa memang ada eksternal, tapi peranan internal juga sangat kuat. Dan analis negara maju, menunjuk Indonesia sebagai negara yang paling terpukul oleh Dolar,” ujar Drajat di The Kemuning, Jakarta, Kamis (10/5).

Menurut Drajat, salah satu penyebab anjloknya Rupiah adalah pertumbuhan ekonomi yang stagnan pada angka 5 persen. “Faktor internal yang pertama membuat Rupiah kita anjlok adalah kita terjebak di pertumbuhan ekonomi 5 persen. Artinya tidak bergerak,” jelasnya.

Penyebab lainnya adalah surplus neraca perdagangan yang merosot pada Januari dan Februari. “Surplus neraca perdagangan cenderung anjlok dua bulan pertama tahun 2018. Sehingga kemudian, neraca traksaksi berjalan kita itu relatif lemah,” jelas Drajat.

Dari sektor bisnis dan infrastruktur, Indonesia dinilai masih banyak dikuasai oleh negara asing. Sehingga, ketika ada faktor eksternal yang mengancam Rupiah para investor langsung bereaksi menarik dana dari Indonesia.

“Seperti kita tahu sektor bisnis masih mengalami kesulitan. Sehingga ketika investor asing menarik dana dan kembali kenegaranya maka Indonesia menjadi negara paling terpukul,” tandasnya. [idr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *