Para Pelajar Indonesia Studi di China, antara Impian Dan Tabu

China menjadi destinasi studi bagi para pelajar Asia, termasuk Indonesia.

 

Triafa.com, Jakarta –¬†Jevon Tantono adalah “mechatronics geek” Indonesia. Matanya menatap tajam ketika dia berbicara tentang peluang mempelajari rekayasa mekanik, elektronik, teknik komputer dan telekomunikasi.

Pekerjaan impiannya adalah membangun robot industri. Baginya, hanya ada satu tempat untuk mengejar impian itu, yakni China.

Universitas-universitas di Indonesia, ujar dia, tidak memiliki program mechatronic dan Tantono akan terjebak belajar teknik mesin jika dia tetap tinggal di Indonesia.

“Itu sangat (menjadi) pilihan kedua saya,” kata Tantono, 18. Tatapan tajam matanya berangsur memudar ketika ditanya apakah impian seperti itu bisa terwujud di Indonesia.

Tantono adalah salah satu dari lusinan mahasiswa yang ikut pameran pendidikan baru-baru ini di Medan. Pameran itu menampilkan banyak institut terbaik di China, negara yang menyisakan gagasan tabu bagi sebagian warga Indonesia.

Namun, di balik tabu bahkan sentimen anti-China yang bermunculan di Indonesia, negeri Tirai Bambu itu justru menyambut para pelajar hebat asal Indonesia.

Menurut data pemerintah China yang dikutip South China Morning Post, Minggu (1/4/2018), ada 14.000 pelajar Indonesia yang belajar di negara itu.

Tahun lalu, Beijing mengumumkan telah mengeluarkan 197 beasiswa penuh untuk para pelajar Indonesia yang ingin mengejar gelar sarjana dan pascasarjana. Pada 2015, hanya ada 15 beasiswa penuh yang disisihkan khusus untuk orang Indonesia.

Anggun Dwi Nursitha, 21, datang ke pameran di Medan untuk mempelajari lebih lanjut tentang beasiswa tersebut. Nursitha saat ini mempelajari sastra China di Universitas Sumatera Utara. Dia ingin mendapatkan gelar master dalam bidangnya di negeri Tirai Bambu.

“Saya ingin menjadi jurnalis di Indonesia yang fokus pada hubungan dengan China sehingga belajar di negara itu akan sangat bermanfaat bagi saya,” katanya.

Tetapi belajar di China adalah fenomena yang relatif baru bagi pelajar Indonesia, dan Indonesia memiliki sejarah konflik tidak hanya dengan China, tetapi khususnya soal studi bahasa China.

Dari tahun 1967 hingga 1998, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, sekolah-sekolah dan buku-buku berbahasa Mandarin dilarang. Berbagai perayaan termasuk festival Tahun Baru Imlek juga dilarang.

Namun, sebagian besar generasi pelahar sekarang lahir setelah zaman Soeharto. Namun, mereka masih sedikit dipengaruhi oleh sentimen anti-China.

 

Natalia Hilman Sentosa, 22, seorang keturunan Tionghoa asal Indonesia, mempelajari bahasa dan bisnis China di Universitas Guangzhou, di mana dia berangkat setelah lulus SMA. Baginya, tidak ada masalah belajar di suatu negara atau bahasa yang dianggap tabu. “Sekarang, CHina ada di mana-mana di Indonesia. Bukan hanya bahasa tetapi juga budaya,” katanya.

Christine Tjhin, peneliti senior di Pusat Kajian Strategis dan Internasional Indonesia mengatakan, sentimen anti-China di Indonesia masih ada.

“Kecurigaan terhadap warga Tionghoa mungkin lebih banyak tentang masalah domestik, khususnya terkait dengan akses ekonomi, stereotip rasial dan, mungkin pada tingkat yang lebih rendah, masalah ideologis seperti komunisme. Di sisi lain, pergi atau belajar di China dipandang berbeda,” ujarnya.

Data dari badan pendidikan PBB atau Unesco menunjukkan bahwa pada tahun 2016, 42.000 dari sekitar 6 juta orang Indonesia yang terdaftar di pendidikan tinggi memilih untuk belajar di luar negeri. Sekitar 20.000 pelajar memilih belajar di Australia sebagai  tujuan teratas.

Sedangkan menurut Chinese Service Centre for Scholarly Exchange, jumlah orang Indonesia yang belajar di China telah meningkat 10 persen setiap tahun sejak 2010.

Jason West, yang membuka stan Shanghai University di pameran tersebut mengatakan gelombang pelajar Indonesia yang datang ke China adalah bagian dari tren regional.

“Secara historis, orang-orang ingin datang ke Tiongkok (China) untuk mempelajari bahasa Mandarin dan mempelajari budaya Tiongkok. Sekarang belajar di China adalah bagian dari proses integrasi yang lebih luas yang kita lihat di Asia,” ujar West yang juga kepala departemen bahasa Inggris di SILC Business School.

 

 

 

Sumber: SindoNews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *